«

»

Mar 02

Masjid Kampus dan Pendidikan Karakter

oleh : Muhammad Kosim – Dosen FTK IAIN IB Padang •

Respons atas Tulisan Profesor Ganefri

Menarik membaca tulisan Pak Ganefri, Rektor UNP berjudul  “Kampus Mengaji dan Pendidikan Karakter” di kolom Teras Utama, Padang Ekspres, Selasa (28/2) lalu. Tidak saja kampus mengaji, program bershalawat dan subuh mubarakah juga menjadi bagian dari upaya pendidikan karakter di kampus yang bermoto “Alam Takambang Jadi Guru” ini.

Kegiatan yang dibuka oleh Menteri Kemristek-Dikti ini patut diapresiasi dan menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi lain, terutama perguruan tinggi berlabel Islam. Hal ini juga menjadi komitmen sang rektor dengan menulis  “UNP siap menjadi inspirator, motivator, fasilitator bagi kampus-kampus lain di Padang khususnya, dan Sumbar umumnya, untuk semakin memperluas syiar ke-Islaman melalui program kampus mengaji ini”.

Saatnya umat Islam bangkit meraih kejayaan dan keunggulannya sebagai khair al-ummah dengan kembali pada Al Quran. Harus ada keberanian dan upaya nyata untuk mengembalikan umat berada dalam ajaran Al Quran. Program  “kampus mengaji” yang digerakkan UNP menjadi bagian dari upaya itu.

Dalam konteks pendidikan nasional, umat Islam juga diberi ruang dan peluang yang demikian besar untuk melakukan praktik pendidikan Islam. Sebut saja tujuan pendidikan nasional dalam UU Sisdiknas 2003 pasal 3, adalah “mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Bagi saya, mustahil peserta didik muslim mampu mencapai tujuan pendidikan nasional, khususnya butir beriman dan bertakwa, jika peserta didik itu sendiri jauh dari Al Quran. Bukankah iman dan takwa adalah bahasa Al Quran dan hanya bisa diraih oleh mereka yang mengimani dan mempedomani Al Quran?

Begitu pula program pendidikan karakter yang digelorakan pemerintah sejak era SBY hingga kini, mesti dimanfaatkan untuk membumikan Al Quran sebagai bagian dari pendidikan karakter di lembaga pendidikan formal. Hal itu semakin kuat jika masjid dijadikan sebagai pusat kegiatan. Al Quran tidak sekadar dibaca, tetapi juga dikaji untuk dipahami, dihayati, dan diamalkan. Pusat kajian Al Quran itu mestinya dilakukan di masjid.

Apalagi mendidik para remaja dan pemuda, hati mereka harus tergantung ke masjid. Inilah yang dimotivasi oleh Rasulullah SAW bahwa satu di antara tujuh golongan yang kelak mendapat perlindungan di Padang Mahsyar adalah kelompok rajulun qalbuhu mu’allaqun fil masajid (pemuda yang hatinya tergantung ke mesjid).

Fakta sejarah juga menunjukkan bahwa sejak era Rasulullah SAW, masjid dijadikan sebagai pusat pendidikan umat, sejak usia dini hingga lansia. Hal itu diwarisi secara turun temurun hingga penyebaran Islam di nusantara.

Untuk itu, masjid kampus mesti dirancang dan dikembangkan fungsinya sebagai pusat pendidikan karakter dengan merujuk pada model masjid masa Rasulullah SAW yang tak diragukan kesuksesannya itu.

Di masa Rasulullah SAW, masjid memiliki multifungsi. Di antaranya, pertama, pusat pendidikan. Mesjid dijadikan sebagai tempat belajar bagi umat sekaligus memecahkan berbagai persoalan yang mereka temui baik terkait dengan urusan agama atau persoalan keduniaan mereka. Bahkan umat Islam yang datang dari tempat jauh untuk belajar Islam tinggal di sekitar masjid yang kemudian mereka dikenal dengan ashabussuffah.

Masjid kampus harus dijadikan pusat belajar sekaligus pusat pembinaan karakter dengan memahami ajaran Islam. Kegiatan tausiyah, kultum, mabit dan sejenisnya menjadi aktivitas rutin masjid kampus yang terencana dan tertata secara professional. Tentu, Al Quran menjadi basis dari kajian keislaman.

Kedua, tempat beribadah. Sebagai tempat ibadah, masjid senantiasa diramaikan oleh jamaah. Bahkan ketika masyarakat Madinah mendengar seruan adzan, mereka segera meninggalkan aktifitasnya, seperti tempat perdagangan dan kebun-kebun mereka.

Warga kampus, seperti dosen, mahasiswa, karyawan, dan lainnya hendaknya meramaikan masjid mendirikan shalat. Tidak ada lagi perkuliahan dan layanan administrasi saat adzan berkumandang. Hal ini butuh komitmen bersama, mulai dari unsur pimpinan hingga staf yang terendah. Tidak sekadar himbauan, tapi jadi kebijakan yang didasari oleh kesadaran untuk menegakkan jamaah.

Masjid harus menjadi miniatur masyarakat muslim di lingkungan kampus. Jika ingin melihat kompak tidaknya warga kampus yang beragama Islam, maka lihatlah masjidnya. Masjid yang lengang dari jamaah boleh jadi menggambarkan kondisi hati warga kampus yang renggang dari ikatan ukhuwah. Saling curiga, hasad, ghibah, ananiyah (egois), hingga namimah (adu domba) menyelimuti hati mereka. Lalu mungkinkah kampus akan berhasil sebagai centre of excellent di bidang karakter?

Ketiga, tempat bermusyawarah. Masjid dijadikan sebagai tempat musyawarah oleh Nabi SAW bersama para sahabatnya dalam rangka mengatur dan mengelola urusan agama dan urusan duniawi mereka.

Mahasiswa juga harus dibiasakan memanfaatkan masjid sebagai tempat bermusyawarah. Tak jarang kita mendengar musyawarah berakhir dengan kebencian, dendam dan dilakukan dengan tipu muslihat. Dengan menjadikan masjid sebagai tempat musyawarah, diharapkan pertikaian yang mengakibatkan perpecahan tidak terjadi.

Maka menjadikan masjid sebagai tempat musyawarah sangat menguntungkan, sebab di dalamnya seorang muslim jauh dari hawa nafsu dan godaan-godaan setan sehingga keputusan yang diambil bukan karena kepentingan pribadi atau golongan.

Keempat, pusat pengembangan kehidupan sosial dan ekonomi umat. Masjid juga diberdayakan untuk menghimpun dana umat sehingga ekonomi umat tetap stabil.

Mahasiswa muslim mesti dididik untuk melakukan interpreurship. Konsep ekonomi syariah yang mulai booming seharusnya ditindaklanjuti secara nyata oleh lembaga pendidikan formal, seperti kampus-kampus yang dihuni oleh mayoritas muslim. Mereka harus dididik secara praktis menerapkan ekonomi syariah dengan menjadikan masjid sebagai pusatnya.

Ruang di sekitar masjid perlu dilengkapi dengan koperasi syariah, Baitul Mal Wat Tamwil (BMT), dan sejenisnya. Tidak saja menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menerapkan ekonomi dan bisnis Islam, tetapi juga mereka bisa membantu mahasiswa lain yang sangat membutuhkan. Maka nilai karakter kemandirian, taawun (saling tolong-menolong) dan kepedulian sesama niscaya dapat terwujud.

Kelima, pusat kajian strategi perang dan politik. Dari Aisyah RA, ia berkata: “Aku melihat Nabi SAW menghalangi (pandangan) ku dengan serbannya, padahal aku sedang memperhatikan orang-orang Habsyi yang sedang bermain-main di masjid, sehingga aku keluar (hendak melihat mereka lagi). Aku perkirakan masih suka bermain.” (HR Bukhari). Ibnu Hajar Al Asqalani mengomentari hadits tersebut bahwa yang dimaksud bermain-main di dalam hadits itu adalah “latihan perang”, bukan semata-mata bermain. Tetapi di dalamnya adalah melatih keberanian di medan-medan pertempuran dan keberanian menghadapi musuh.

Sadar atau tidak, umat Islam juga berada dalam perang opini, informasi, dan budaya. Kita harus membentengi mentalitas pemuda dari serangan-serangan musuh berupa hedonisme, sekularisme, liberalisme, hingga ancaman narkoba, pornografi dan pornoaksi. Para pemuda Islam mesti menyadari berbagai ancaman yang dapat merusak masa depan mereka lalu memahami cara memproteksi diri dari berbagai ancaman tersebut. Masjid menjadi wadah untuk membina sikap mental yang tahan dari serangan tersebut.

Menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan karakter adalah upaya nyata untuk mengembalikan umat Islam ke posisi yang sebenarnya. Kondisi bangsa yang akhir-akhir ini cukup memprihatinkan, mencemaskan bahkan nyaris menimbulkan pesimisme, harus dijawab dengan sikap optimis bahwa kita masih punya lembaga pendidikan.

Sekolah, perguruan tinggi atau kampus merupakan mesin peradaban yang siap memproduksi umat terbaik dan unggul di muka bumi ini dalam menegakkan risalah Tuhan yang haq dan berkeadilan.

Jangan jadikan para pemuda itu korban karena salah didik, salah orientasi, dan kehilangan fondasi. Para pemimpin dan pendidik di kampus, turut bertanggungjawab terhadap masa depan pemuda Islam.

Terakhir, selamat kepada UNP, semoga program Pak Rektor diridhai Allah SWT dan mendapat dukungan dari semua warga kampus yang istiqamah mengaji untuk mencintai dan mengamalkan Al Quran. Dengan begitu, Insya Allah akan melahirkan lulusan berkarakter Qurani.

Firman-Nya: Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman (Ali Imran/3: 137). Wallahu a’lam. (*)

Diambil dari sumber : http://www.m.padek.co/detail.php?news=80092

2017-03-01 11:54

 

 

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Email
  • RSS
  • Blogger
  • MySpace
  • Tumblr
  • Google Plus
Email
Print
WP Socializer Aakash Web