«

»

Mar 29

Umat Terbaik Diantara Manusia

by : Summary Tatsqif FORSIA Mar 2013

Jemput syurga ke dunia ini dengan cara mencari dan melakukan kebaikan dan amal sebanyak-banyaknya. Sebagai seorang Muslim, jangan pernah tidak memiliki harapan untuk mendapatkan syurga karena syurga pasti akan kita dapatkan.

Firman Allah swt yang artinya “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (Q.S Ali Imran : 110 ).

Umat terbaik yang dimaksudkan Allah adalah orang-orang yang selalu mengikuti segala aspek kehidupan Rasulullah SAW. Orang yang menyuruh kepada kebaikan adalah orang yang memiliki kebaikan itu sendiri. Seperti halnya orang mati, orang mati tidak bisa memberikan apa-apa karena orang mati itu tidak bisa berbuat apa-apa. Orang yang bisa mencegah kemungkaran itu adalah orang yang telah melindungi dirinya dari kemungkaran itu sendiri. Itulah umat terbaik yang diciptakan Allah. Pada zaman Rasulullah, banyak umat terbaik yang diciptakan Allah diantara manusia, diantaranya adalah para sahabat seperti Mushab bin Umair dan pada masa nabi Musa seperti Siti Mashithoh.

Mushab bin Umair adalah seorang remaja Quraisy yang paling menonjol, paling tampan dan paling bersemangat. Dia  adalah pemuda Mekah yang menjadi sanjungan semua orang. Dia lahir dan dibesarkan dalam limpahan kenikmatan, serba berkecukupan, biasa hidup mewah dan manja, selalu dielu-elukan, bintang di setiap rapat dan pertemuan. Setelah masuk Islam, dia menjadi tokoh dalam sebuah cerita keimanan dan perjuangan demi membela Islam. Dia adalah satu di antara orang-orang yang ditempa oleh Islam dan dididik oleh Nabi Muhammad SAW. Sang ibu sangat marah mendengar keIslaman Mushab, anaknya.  Ibunya berusaha mengembalikan Mushab kepada berhala sesembahannya, dia menghentikan segala pemberian yang biasa diberikan kepada Mushab. Diantara percakapan Mushab dengan ibunya adalah “wahai ibuku, walaupun ibu memiliki seribu nyawa, dan nyawa itu diambil satu persatu hingga ibu meninggal, maka aku akan tetap teguh pada agama Muhammad ini”. Pada saat perang Uhud, Mushab gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada. Ia gugur setelah berjuang dengan gigih. Mengorbankan semua yang dimilikinya demi keimanan dan keyakinan. Ketika sampai di tempat tebaringnya Mush’ab, bercucurlah air mata Nabi SAW dengan deras. Tidak ada yang bisa dipakai untuk mengkafaninya kecuali sehelai kain. Jika ditutupkan mulai dari kepalanya, kedua kakinya kelihatan. Jika ditutupkan mulai dari kakinya, kepalanya kelihatan. Maka, Rasulullah bersabda, ‘tutupkanlah kebagian kepalanya, dan tutupilah kakinya dengan rumput idzkhir’. Begitulah Mushab bin Umair berjuang demi membela Islam.

Begitu juga dengan perjuangan Siti Mashithoh, seorang tukang sisir rambut putri Fira’un, yang dilempar beserta anak-anak dan suaminya ke tempat penggorengan yang sangat panas karena mempertahankan keyakinannya.

Dua contoh diatas mengingatkan bahwa umat terbaik diantara manusia itu adalah orang yang tidak pernah terlepas dari ujian. Setiap pekerjaan kebaikan, pasti banyak rintangan. Seperti halnya perjuangan Rasulullah yang ditawar dengan harta, tahta, dan wanita. Tapi Rasulullah dengan bijak berkata “Hai pamanku. Demi Allah seandainya mereka letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku menghentikan dakwah ini, maka selamanya aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah sendiri yang akan memenangkan agama ini atau aku binasa karenanya.”

Ketika kita ditimpa musibah, maka yang harus kita lakukan adalah

  1. Mengingat bahwa kita adalah budak Allah, dimana seorang budak tidak boleh melawan perintah tuhannya sebagaimana budak pada zaman Rasulullah SAW.
  2. Mengingat bahwa kita adalah makhluk ciptaan Allah SWT
    Karena itu Allah mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Jangan bersedih jika mendapat cobaan. Jalani dan nikmati saja karena Allah tahu kebutuhan kita dan mana yang terbaik untuk kita.
  3. Yakin bahwa Allah akan menggugurkan dosa dan menambah pahala kita dengan syarat harus ikhlas menjalaninya.
  4. Yakin bahwa musibah dan ujian yang kita dapatkan belum sebanding dengan musibah yang ditimpa orang lain dan pendahulu-pendahulu kita.
  5. Yakin bahwa ujian dapat menaikkan derajat seseorang di hadapan Allah SWT.
  6. Yakin bahwa musibah yang dialami adalah efek dari dosa yang kita lakukan di masa lalu.
  7. Yakin bahwa kita bisa melalui cobaan tersebut karena Allah tidak memberikan cobaan melebihi kemampuan kita.
  8. Jika cobaan dan musibah tersebut diceritakan kepada orang lain, maka yang kita ceritakan tidak bermanfaat untuk kita, kecuali hanya Allah SWT yang memberikam manfaatnya kepada kita.

 

* disarikan oleh Eliyawar D

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Email
  • RSS
  • Blogger
  • MySpace
  • Tumblr
  • Google Plus

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Email
Print
WP Socializer Aakash Web